Halaman

Rabu, 28 Maret 2012

Stauffenberg


Malam masih panjang
Pagi belum menjelang
Rasa takut dan bimbang terus meradang
Seakan mentari untukku tak kan pernah datang

Menyusun buku,merapihkan pena serta jidar dalam tas gendongku
Untuk sebuah ekspedisi esok hari

Terbersit sebuah pesan singkat darimu
Meleburkan angan akan harapan
Seharusnya kau baca dulu novelku
Sebagaimana para penjaga lapas memahami isi tahanan

Mengembara melintasi priangan timur
Agar bisa berlabuh diatas dermaga negeri galendo
Dipersimpangan suryalaya ;
Apakah aku harus memandikan diri diatas pulau kelelawar nan suci
Atau melangkah lurus mennuju jalan penyambung pangandaran untuk meraih mimpi yang telah hilang
Tak bisa dipungkiri, jiwaku berceceran di sepanjang tanjakan yang melingkar

Langkahku terhenti ketika aku baru saja memulainya
Saat komandan membentak untuk merangkak
Menggenggam senapan perang dalam medan tempur
Tak bisa bejalan karena separuh jembatan telah hancur

Terlihat bintang-bintang menyeringai
Sepasang telaga tak mampu membendung deraian amarah yang telah mendidih
Menjatuhkan beningnya butiran-butiran salju
Menghalangi pandangan akan panorama sebuah ketulusan ,kebencian dan kejujuran

“hanya dalam ruang dengan kursi dan papan tulis kita dipertautkan”

Karena sunset telah menelan matahari dibalik samudera hindia
Dan turis PeranCispun jauh bergegas merasuki lorong-lorong losmen di bibir pantai
Bayangan terpecah, siluetmu berserakan menjadi beberapa bagian dikala lipatan bait-bait mencekik tidur panjangku
Menodai darah merah tak bersalah
Menyalakan api kesendirian, keabadianpun berkobar
Bergolak dihamparan semenanjung duka
Biarkan anak-anak perantau merangkul rindu
Hingga dentuman hati mereka semakin kencang menggema di seluruh jagat raya

Meskipun kaisar telah menduduki istana
Mengemas prajurit untuk mendekap dinginnya puncak gunung fuji
Biarkanlah diriku menikam pergelangan tangan ketika detik telah menunjukan esok hari
Sebilah pedang dari jepang itu akan menjadi perbincangan kita kelak
Karena linangan pekatnya asap dari kereta stasiun manggarai tak kan pernah padam

Hidangan secangkir kepedihan dan sepotong penantian, selalu tersuguh manis saat aku tersipu diatas kursi goyang warisan menir belanda

Dalam perenungan yang diterpa angin malam
Seraya menyaksikan kucing-kucing hitam legam mengotori ruang tamuku
Kian terbayang,jemariku yang lentik dapat bersorak syahdu dari irama petikan senar gitar spanyol diatas dermaga untuk penantian perjalananku menuju Tokyo
Psyche


Mataku,masih enggan menutupkan penglihatannya
Kumandang adzan shubuh ,melintasi urat nadiku
Polemic tanpa henti mengitari serta menggugat tanah hidup yang terus berjalan
Membuat diri melangkah keluar,setelah badai yang begitu merah membara menggeliat bagai kilat
Laiknya jilatan lidah api yang menawan hati

Pekatnya asap putih dihamparan biru
Selalu setia mendekap dalam detik-detikku
Walau gemuruh ala mini terkadang menjadi jeda di antara tubuh bertophia
Ia selalu datang kembali memberikan pelitanya

Bukan !
Kopi hitam, hisapan rokok juga sebagian siaran televisi yang telah usai
Itulah ruh dalam tubuhku

Dikala mentari datang
Aku bukanlah aku, aku telah menjadi loren Cameron
Memang nafasku selalu behembus,kelopak  mataku selalu berkedip
Ketahuilah,itu saat-sat aku terlelap dalam kefanaan

Terus mencari bongkahan batu-bata berirama yang hilang dari sisi dinding fikiran dalam jiwa
Menuangkan segala isinya kedalam secangkir sajak yang begitu hangat

Sesekali ,teriakan dunia baru untuk lembah naga ;
Pangandaran, Lembang, Ciwidey, Pangalengan, Garut, Anyer, Malioboro, hingga situ Lengkong yang menggema berbaur dengan Negeri Puska Bumi Alit
Itulah sebagian alat bedah untuk kepala yang telah mendaki gunung ciremai yang menjulang hendak mencakar langit biru

Entah harus kemana lagi pelancong menuntunku
Sampai saatku tiba, ransel yang penuh sesak oleh perbekalan
Akan menjadi teman sejati petualanganku

Hingga malaikat berbisik halus kepadaku
Untuk akhir dari sebuah jalan tak berujung

Telah kutemui makna seren taun diatas hektaran ladang yang telah ditebas habis

Seketika bibir berucap ;
Inilah rayuan mimpiku yang abadi !
Bandara


Semerbak mawar putih begitu terasa
Mentari menyambutku dengan senyuman
Menolehkan sepasang mata
Begitu terkejutnya diriku hingga kujawab dengan senyuman

Diantara berjuta-juta pucuk teh
Kau mainkan irama penghabisan
Kata terima kasih yang terucap dari bibir manismu
Dan itu yang ku ingat hingga kini

Kemarin, akulah tour guidemu
Membawamu terbang diantara berjuta kembang
Mengitari nostalgianya para penjajah yang dahulu terbakar habis karena ulahnya
Laiknya Nagasaki dan Hiroshima yang menyakitkan

Ular besi kau tunggangi hingga tibanya di kota ini
Seolah telah mengerti , betapa aku membutuhkan warna lain dan kujadikan bias pelangi

Hari ini, aku masih menjadi tour guidemu
Andai aku semahir para pemahat jepara
Bagiku engkaulah ukiran terindah yang telah diciptakan
Meski terlalu mahal untukku, kan kujadikan pelengkap warna di angkasa

Mengapa aku membawamu kesini?
Tempat para burung raksasa singgah, sayap-sayap besi terbang tinggi
Entahlah,yang kumengerti hanya sampai disini aku menjadi pemandumu
Namun, perjalanan inilah yang terindah bersamamu
Bersamamu….

Zahra


Di tengah kesunyian malam
Aku merasakan aroma malam-malam sebelumnya
Sepi !!!

Dalam keheninganku
Laiknya pengembara, berkelana dalam kegelapan hutan
Tentu sendiri, membuat luka semakin berdarah
Mungkin, engkapun telah menjadi saksi dihadapan meja hijau kehidupanku

Larut aku untuk sebuah perenungan
Mengapa tidak, singgah sejenak di istana megah ;
Rumah Tuhanku Yang Maha Agung?

Haruskah aku jalani mimpi-mimpi yang ternodai?
Namun,lantunan ayat suci-Nya telah berbisik merasuki jiwa
Adakalanya , Batu hitam sekelam titik bola matamu yang menawan, bersanding bersama kelopak-kelopak bunga merah juga menghiasi halamanku

Telah kuterawang
Dibalik aromanya yang menyejukkan sukma
Tersisipkan sebuah kegelisahan yang terlepas
Begitu indah seindah sansekerta

Dua almenak telah habis dilewati
Inilah manis cokelat meleleh
Nampak jelas deburan ombak itu
Pertanda restu dari pelangi yang menggeraikan pesonanya setelah badai berlalu tanpa senyuman

Awan-awan hitam telah bergeser setelahnya
Keping-keping penyesalan dari catatan lampauku
Biar kupelajari nanti malam dengan mata berkaca-kaca
Ditemani sorotan lampu badai yang membuat alam kian memilukan

Kekuatan ini telah menjadi prahara yang berdesis lembut dihatiku dan bukanlah ular derik yang mematikan
Tersirat sebuah pertanyaan ;
Sediakah Zahra berfluktuatif dalam sebuah lagu berjudul batu hitam?

Aku masih menjadi nelayan , walau terdampar dihamparan pulau tak berpenghuni

Janjiku ; meski engkau tak butuh embel-embel ketidakpastian itu dan memang hanya pembuktianlah yang kan kuciptakan kelak

Menyirami tangkai dalam rintihan pekatnya cadas
Agar tumbuh segar kian merekah

Dan kulukiskan raut wajahmu dengan secerca tinta harapan dalam perjalanan yang begitu menyilaukan sebuah tatapan

Aku yakin, akan kesediaanmu untuk hinggap dalam ruang yang terang
Akan kesediaanmu untuk mendekap menjadi kalimat-kalimat pelengkap ceritaku
Dalam sebuah lembaran baru ; aku berharap hari-hari bersama desah nafasmu