Zahra
Di tengah kesunyian malam
Aku merasakan aroma malam-malam
sebelumnya
Sepi !!!
Dalam keheninganku
Laiknya pengembara, berkelana dalam
kegelapan hutan
Tentu sendiri, membuat luka semakin
berdarah
Mungkin, engkapun telah menjadi saksi
dihadapan meja hijau kehidupanku
Larut aku untuk sebuah perenungan
Mengapa tidak, singgah sejenak di
istana megah ;
Rumah Tuhanku Yang Maha Agung?
Haruskah aku jalani mimpi-mimpi yang
ternodai?
Namun,lantunan ayat suci-Nya telah
berbisik merasuki jiwa
Adakalanya , Batu hitam sekelam titik
bola matamu yang menawan, bersanding bersama kelopak-kelopak bunga merah juga
menghiasi halamanku
Telah kuterawang
Dibalik aromanya yang menyejukkan
sukma
Tersisipkan sebuah kegelisahan yang
terlepas
Begitu indah seindah sansekerta
Dua almenak telah habis dilewati
Inilah manis cokelat meleleh
Nampak jelas deburan ombak itu
Pertanda restu dari pelangi yang
menggeraikan pesonanya setelah badai berlalu tanpa senyuman
Awan-awan hitam telah bergeser
setelahnya
Keping-keping penyesalan dari catatan
lampauku
Biar kupelajari nanti malam dengan
mata berkaca-kaca
Ditemani sorotan lampu badai yang
membuat alam kian memilukan
Kekuatan ini telah menjadi prahara
yang berdesis lembut dihatiku dan bukanlah ular derik yang mematikan
Tersirat sebuah pertanyaan ;
Sediakah Zahra berfluktuatif dalam
sebuah lagu berjudul batu hitam?
Aku masih menjadi nelayan , walau
terdampar dihamparan pulau tak berpenghuni
Janjiku ; meski engkau tak butuh
embel-embel ketidakpastian itu dan memang hanya pembuktianlah yang kan
kuciptakan kelak
Menyirami tangkai dalam rintihan
pekatnya cadas
Agar tumbuh segar kian merekah
Dan kulukiskan raut wajahmu dengan
secerca tinta harapan dalam perjalanan yang begitu menyilaukan sebuah tatapan
Aku yakin, akan kesediaanmu untuk
hinggap dalam ruang
yang terang
Akan kesediaanmu untuk mendekap
menjadi kalimat-kalimat pelengkap ceritaku
Dalam sebuah lembaran baru ; aku
berharap hari-hari bersama desah nafasmu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar