Halaman

Rabu, 28 Maret 2012

Zahra


Di tengah kesunyian malam
Aku merasakan aroma malam-malam sebelumnya
Sepi !!!

Dalam keheninganku
Laiknya pengembara, berkelana dalam kegelapan hutan
Tentu sendiri, membuat luka semakin berdarah
Mungkin, engkapun telah menjadi saksi dihadapan meja hijau kehidupanku

Larut aku untuk sebuah perenungan
Mengapa tidak, singgah sejenak di istana megah ;
Rumah Tuhanku Yang Maha Agung?

Haruskah aku jalani mimpi-mimpi yang ternodai?
Namun,lantunan ayat suci-Nya telah berbisik merasuki jiwa
Adakalanya , Batu hitam sekelam titik bola matamu yang menawan, bersanding bersama kelopak-kelopak bunga merah juga menghiasi halamanku

Telah kuterawang
Dibalik aromanya yang menyejukkan sukma
Tersisipkan sebuah kegelisahan yang terlepas
Begitu indah seindah sansekerta

Dua almenak telah habis dilewati
Inilah manis cokelat meleleh
Nampak jelas deburan ombak itu
Pertanda restu dari pelangi yang menggeraikan pesonanya setelah badai berlalu tanpa senyuman

Awan-awan hitam telah bergeser setelahnya
Keping-keping penyesalan dari catatan lampauku
Biar kupelajari nanti malam dengan mata berkaca-kaca
Ditemani sorotan lampu badai yang membuat alam kian memilukan

Kekuatan ini telah menjadi prahara yang berdesis lembut dihatiku dan bukanlah ular derik yang mematikan
Tersirat sebuah pertanyaan ;
Sediakah Zahra berfluktuatif dalam sebuah lagu berjudul batu hitam?

Aku masih menjadi nelayan , walau terdampar dihamparan pulau tak berpenghuni

Janjiku ; meski engkau tak butuh embel-embel ketidakpastian itu dan memang hanya pembuktianlah yang kan kuciptakan kelak

Menyirami tangkai dalam rintihan pekatnya cadas
Agar tumbuh segar kian merekah

Dan kulukiskan raut wajahmu dengan secerca tinta harapan dalam perjalanan yang begitu menyilaukan sebuah tatapan

Aku yakin, akan kesediaanmu untuk hinggap dalam ruang yang terang
Akan kesediaanmu untuk mendekap menjadi kalimat-kalimat pelengkap ceritaku
Dalam sebuah lembaran baru ; aku berharap hari-hari bersama desah nafasmu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar