Halaman

Rabu, 28 Maret 2012

Psyche


Mataku,masih enggan menutupkan penglihatannya
Kumandang adzan shubuh ,melintasi urat nadiku
Polemic tanpa henti mengitari serta menggugat tanah hidup yang terus berjalan
Membuat diri melangkah keluar,setelah badai yang begitu merah membara menggeliat bagai kilat
Laiknya jilatan lidah api yang menawan hati

Pekatnya asap putih dihamparan biru
Selalu setia mendekap dalam detik-detikku
Walau gemuruh ala mini terkadang menjadi jeda di antara tubuh bertophia
Ia selalu datang kembali memberikan pelitanya

Bukan !
Kopi hitam, hisapan rokok juga sebagian siaran televisi yang telah usai
Itulah ruh dalam tubuhku

Dikala mentari datang
Aku bukanlah aku, aku telah menjadi loren Cameron
Memang nafasku selalu behembus,kelopak  mataku selalu berkedip
Ketahuilah,itu saat-sat aku terlelap dalam kefanaan

Terus mencari bongkahan batu-bata berirama yang hilang dari sisi dinding fikiran dalam jiwa
Menuangkan segala isinya kedalam secangkir sajak yang begitu hangat

Sesekali ,teriakan dunia baru untuk lembah naga ;
Pangandaran, Lembang, Ciwidey, Pangalengan, Garut, Anyer, Malioboro, hingga situ Lengkong yang menggema berbaur dengan Negeri Puska Bumi Alit
Itulah sebagian alat bedah untuk kepala yang telah mendaki gunung ciremai yang menjulang hendak mencakar langit biru

Entah harus kemana lagi pelancong menuntunku
Sampai saatku tiba, ransel yang penuh sesak oleh perbekalan
Akan menjadi teman sejati petualanganku

Hingga malaikat berbisik halus kepadaku
Untuk akhir dari sebuah jalan tak berujung

Telah kutemui makna seren taun diatas hektaran ladang yang telah ditebas habis

Seketika bibir berucap ;
Inilah rayuan mimpiku yang abadi !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar