Psyche
Mataku,masih enggan menutupkan
penglihatannya
Kumandang adzan shubuh ,melintasi urat
nadiku
Polemic tanpa henti mengitari serta
menggugat tanah hidup yang terus berjalan
Membuat diri melangkah keluar,setelah
badai yang begitu merah membara menggeliat bagai kilat
Laiknya jilatan lidah api yang menawan
hati
Pekatnya asap putih dihamparan biru
Selalu setia mendekap dalam
detik-detikku
Walau gemuruh ala mini terkadang menjadi
jeda di antara tubuh bertophia
Ia selalu datang kembali memberikan
pelitanya
Bukan !
Kopi hitam, hisapan rokok juga
sebagian siaran televisi
yang telah usai
Itulah ruh dalam tubuhku
Dikala mentari datang
Aku bukanlah aku, aku telah menjadi
loren Cameron
Memang nafasku selalu behembus,kelopak mataku selalu berkedip
Ketahuilah,itu saat-sat aku terlelap
dalam kefanaan
Terus mencari bongkahan batu-bata
berirama yang hilang dari sisi dinding fikiran dalam jiwa
Menuangkan segala isinya kedalam
secangkir sajak yang begitu hangat
Sesekali ,teriakan dunia baru untuk
lembah naga ;
Pangandaran, Lembang, Ciwidey,
Pangalengan, Garut, Anyer, Malioboro, hingga situ Lengkong yang menggema
berbaur dengan Negeri Puska Bumi Alit
Itulah sebagian alat bedah untuk
kepala yang telah mendaki gunung ciremai yang menjulang hendak mencakar langit
biru
Entah harus kemana lagi pelancong
menuntunku
Sampai saatku tiba, ransel yang penuh
sesak oleh perbekalan
Akan menjadi teman sejati
petualanganku
Hingga malaikat berbisik halus
kepadaku
Untuk akhir dari sebuah jalan tak
berujung
Telah kutemui makna seren taun diatas
hektaran ladang
yang telah ditebas habis
Seketika bibir berucap ;
Inilah rayuan mimpiku yang abadi !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar