ketika kafan suci telah terlipat membungkus raga tak bernyawa,dan terbaring di ruang gelap tak berpintu,ganjalan tanah menjadi bantal tidur panjang,,terdengar sayunya alunan suara.,mengeram
Jumat, 05 Oktober 2012
Basah
Basah
Kepala basah
Badan basah
Jiwa pun basah
Hingga negeri ini tertangkap basah melakukan korupsi
tertangkap basah melawan kebenaran
Ciparay(saat hujan) oktober 2012
Delima
Termangu dalam gelap kamar
Entah apa yang direncanakan
Sedu tangis merajam hati lugumu, Delima
Ibumu tahu, luka ini karena langkahmu, begitupun engkau, Delima
Tak pernah tersirat akan lebih berat bebanmu kini, Delima
Tertawalah bersama buah hatimu kelak
Tersenyumlah bila engkau menatap foto kenangan masa kini di masa depan, Delima
Lari-lah, Delima
Peganglah perutmu, jangan sampai engkau terjatuh kembali DelimaDelima, engkau gagal bukan hancur
Dari gagal engkau bisa petik buah manis
Delima, engkau harus tahu
Hati dan dirimu terbuat dari sutra dan baja
Dimanakah Tuhan
Dimanakah Tuhan
Tidak kelihatan di sekitar pengemis durjana
Apakah tuhan tidak mendengar siaran berita hari ini
Apakah tuhan tidak membaca koran hari ini
Apakah tuhan hanya berakting dalam judul sinetron juga layar lebar
Dimanakah tuhan
Kusambangi surauNya, tapi tidak nampak batang hidungNya
Apakah tuhan sedang enak terlelap di istana senayan
Apakah tuhan tidak pernah melintasi pemukiman kumuh
Apakah tuhan tidak mengerti manusia
Sebenarnya tuhan tidak ada
Sebenarnya tuhan adalah kertas merah, bukan logam kuning dan perak
September 2012
Dalam dua puluh
Dalam dua puluh
mengapa muara menghubungkan sungai dan laut
Mengapa manusia hidup
Tersendat dalam harap
Harus sua dengan gelap
Dua puluh, sebanyak itu ibu memangku harap
Sebanyak itu ayah mengukur jalan antara pondok dan surau
Bimbang, resah mendesah
Berbisik dan tak terusik
Sementara diri menatap rambut ikal
Apa harus tetap ikal
16 september 2012
Detik Fantasiku
Detik Fantasiku
senja menjemput keriangan altar mimpiku
dalam dunia yang selalu disambangi
antara bahagia dan senang, terdengar deburan jiwa tanpa nama
dalam genggam senja
hanya bisa menyapa purnama
tanpa malu dan ragu. bincang berlarut hingga fajar menyambut
akhirnya kebebasan berfantasi kembali kujalani
tidak peduli dzuhur memanggil
tidak peduli ashar memanggil
selagi berjalan dalam fantasiku
namun, senja kembali menjemput absahnya khayalan
tidak pedulikah akan harapanku
tidak pedulikah akan senyumku
senja terlalu keji, menggenggam riangnya fantasiku
begitulah detik-detik fantasi berbicara
2012
Langganan:
Postingan (Atom)


