Stauffenberg
Malam masih panjang
Pagi belum menjelang
Rasa takut dan bimbang terus meradang
Seakan mentari untukku tak kan pernah
datang
Menyusun buku,merapihkan pena serta
jidar dalam tas gendongku
Untuk sebuah ekspedisi esok hari
Terbersit sebuah pesan singkat darimu
Meleburkan angan akan harapan
Seharusnya kau baca dulu novelku
Sebagaimana para penjaga lapas
memahami isi tahanan
Mengembara melintasi priangan timur
Agar bisa berlabuh diatas dermaga
negeri galendo
Dipersimpangan suryalaya ;
Apakah aku harus memandikan diri
diatas pulau kelelawar nan suci
Atau melangkah lurus mennuju jalan
penyambung pangandaran untuk meraih mimpi yang telah hilang
Tak bisa dipungkiri, jiwaku berceceran
di sepanjang tanjakan yang melingkar
Langkahku terhenti ketika aku baru
saja memulainya
Saat komandan membentak untuk
merangkak
Menggenggam senapan perang dalam medan
tempur
Tak bisa bejalan karena separuh
jembatan telah hancur
Terlihat bintang-bintang menyeringai
Sepasang telaga tak mampu membendung
deraian amarah yang telah mendidih
Menjatuhkan beningnya butiran-butiran
salju
Menghalangi pandangan akan panorama
sebuah ketulusan ,kebencian dan kejujuran
“hanya dalam ruang dengan kursi dan
papan tulis kita dipertautkan”
Karena sunset telah menelan matahari
dibalik samudera hindia
Dan turis PeranCispun jauh bergegas
merasuki lorong-lorong losmen di bibir pantai
Bayangan terpecah, siluetmu berserakan
menjadi beberapa bagian dikala lipatan bait-bait mencekik tidur panjangku
Menodai darah merah tak bersalah
Menyalakan api kesendirian,
keabadianpun berkobar
Bergolak dihamparan semenanjung duka
Biarkan anak-anak perantau merangkul
rindu
Hingga dentuman hati mereka semakin
kencang menggema di seluruh jagat raya
Meskipun kaisar telah menduduki istana
Mengemas prajurit untuk mendekap
dinginnya puncak gunung fuji
Biarkanlah diriku menikam pergelangan
tangan ketika detik telah menunjukan esok hari
Sebilah pedang dari jepang itu akan
menjadi perbincangan kita kelak
Karena linangan pekatnya asap dari
kereta stasiun manggarai tak kan pernah padam
Hidangan secangkir kepedihan dan
sepotong penantian, selalu tersuguh manis saat aku tersipu diatas kursi goyang
warisan menir belanda
Dalam perenungan yang diterpa angin
malam
Seraya menyaksikan kucing-kucing hitam
legam mengotori ruang tamuku
Kian terbayang,jemariku yang lentik
dapat bersorak syahdu dari irama petikan senar gitar spanyol diatas dermaga
untuk penantian perjalananku menuju Tokyo
Tidak ada komentar:
Posting Komentar