Halaman

Senin, 26 Maret 2012

Petra


Serentak mata menatap tajam pada kotak bercahaya
Ditemani tarian jemari bersama alunan dendang taman bunga
Di ronamu tersimpan semacam panggilan
Sebut saja Lala !
Senyummu memecahkan keramaian malam
Mengajakku merasuki kelokan lorong-lorong sempit
Secangkir kopi tersuguh di atas meja

Tak asing bagiku !
Seakan memutar film-filmku dalam satu pita
Membelah bukit, menebas benalu
Mematahkan bentangan yang mengecam masa lalu

Menyambut ladang emas setelah shubuh dengan lontaran jumroh

Menggenggam tangan satu sama lain
Meracik formasi dan strategi
Hey, kami tak kan roboh !
Karena semua jasad bersatu

Tak kan gentar !
Walau toga tela terpernis di tubuhku
Terus bersorak demi jiwa yang padu
Walau luka tak henti berdarah

Iblis pun tak kan mampu menembus barisan
Karena kami adalah orkrestra yang bersorak

Di tanah biru
Kami tetap bernada sama

Melukiskan cerita dengan darah kami sendiri

Tidak ada komentar:

Posting Komentar