Empat puluh tujuh
(Muhamad Seftia Permana-Vjay)
Aku ingin melukiskan sebuah kisah
Dalam sebuah kanvas putih seputih
kafan yang telah menanti dalam ruang gelap tak berpintu
Sebersih istana surga yang setiap insan
mendambakannya
Dengan kuas yang sehitam bulu alismu
Juga tinta jafaron yang begitu beraroma
nan mujarab
Warna-warni pelangi setelah gemercik
hujan usai
Masih ada celah untuk menorehkan kata-kata
yang mengalir sebening embun sebelum adzan di televisi dikumandangkan
Agar kobra india bisa duduk di tengah
kampung ,siap meludahkan bisa mematikan
Aku ingin memberikan berlian dari
tangan lusuhku karena kata-kata tak bermakna
Untuk tanah bekas ingusku,untuk kursi
dan papan tulis alfabetku
Jangan kau fikir aku tidak solid !!
Menghirup udaranya saja ,nuraniku terbangun
dari tidur sesaatnya
Di bawah laut hitam dengan kerikil
bercahaya,kalian kumpulkan langkah-langkah kecil
Sejuta puisi tak kan mampu menebusnya
bagiku
Bumi pun tak kan mampu melihat bulan
yang menyinari dirinya
Aku ingin mendekap benteng belanda yang
membentang kokoh untuk tubuhku
Guna memulihkan amnesia yang hinggap
dalam kepala yang kian membatu
Laiknya bebatuan sungai,tak mengenal diri
sendiri
Butir-butir putih terkumpul ditemani
sebongkah paha dengan dilumati minyak berlemak yang melambai gemulai seiring
sang pembicara menganga
Mereka rela melepas kepergianku
Menembus batasan portal ular besi yang
selaras dengan watak dari daun-daun kering yang dilaluinya
Kali ini kebanggaanku akan aku jumpai
Seraya jiwa menggebu-gebu
Laiknya deburan ombak yang ganas
Dihiasi halilintar yang menyambar
jagat raya
Penantian ku telah usai
Mengenang sang pejuang kebenaran
Kobra india itu telah meludahkan bisa
mematikan
Pejuang rakyat kecilpun menyatakan
sikapnya
Laiknya para intelektual berkekspresi
menyampaikan aspirasi
Juga jala-jala nelayan yang menjerat
ikan-ikan tak berdosa
Melumpuhkan mangsa ; tanah bekas ingusku, kursi dan papan tulis
alfabetku
Juga menunjukkan siapa sebenarnya
dibalik sang penguasa tubuh meliuk-liuk
Aku perkosa hak-ku sendiri
“Petra” pun telah nampak jelas
terpampang di ruang hampa udara
Atau masih kurangkah semua ini?
Setahun lagi istana itu akan semakin
kokoh
Pertanda apa ini?
Jika memang harus beberapa jam lagi
aku berdiri diatas ingusku sendiri
Aku jalani dengan ketabahan dan
pasrahku
Tapi mengapa harus bidadari pementorku
yang menjadi korban?
Kini dia lemah tak berdaya
Namun semangat juangnya masih
menjulang tinggi bagai gedung-gedung pencakar langit yang menggapai cahaya
bintang yang berkilauan
Karena aku tidak bisa menentukan tabir
kehidupan
Pengorbanan sang “petra” adalah
keluargaku
Dan “petra”lah yang akan aku berikan
sebagai balas budiku,dan memang sukmaku untuk itu
Bukan rupiah-rupiah yang dilombakan
oleh kaum berdasi yang aku berikan
Melainkan sebuah kibaran bendera
dibalik “petra”
Aku suguhkan kasih sayang dan cintaku
untuk keluargaku
Janganlah engkau pulang !
Aku ini keluargamu , penjemput mimpi
yang hilang
Aku akan melangkahkan kakiku untuk
menjadi (telah menjadi) keluargamu seutuhnya
Karena aku adalah “petra”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar