Halaman

Senin, 26 Maret 2012


Empat puluh tujuh
(Muhamad Seftia Permana-Vjay)

Aku ingin melukiskan sebuah kisah
Dalam sebuah kanvas putih seputih kafan yang telah menanti dalam ruang gelap tak berpintu
Sebersih istana surga yang setiap insan mendambakannya
Dengan kuas yang sehitam bulu alismu
Juga tinta jafaron yang begitu beraroma nan mujarab

Warna-warni pelangi setelah gemercik hujan usai
Masih ada celah untuk menorehkan kata-kata yang mengalir sebening embun sebelum adzan di televisi dikumandangkan
Agar kobra india bisa duduk di tengah kampung ,siap meludahkan bisa mematikan

Aku ingin memberikan berlian dari tangan lusuhku karena kata-kata tak bermakna
Untuk tanah bekas ingusku,untuk kursi dan papan tulis alfabetku
Jangan kau fikir aku tidak solid !!
Menghirup udaranya saja ,nuraniku terbangun dari tidur sesaatnya
Di bawah laut hitam dengan kerikil bercahaya,kalian kumpulkan langkah-langkah kecil
Sejuta puisi tak kan mampu menebusnya bagiku
Bumi pun tak kan mampu melihat bulan yang menyinari dirinya


Aku ingin mendekap benteng belanda yang membentang kokoh untuk tubuhku
Guna memulihkan amnesia yang hinggap dalam kepala yang kian membatu
Laiknya bebatuan sungai,tak mengenal diri sendiri

Butir-butir putih terkumpul ditemani sebongkah paha dengan dilumati minyak berlemak yang melambai gemulai seiring sang pembicara menganga
Mereka rela melepas kepergianku
Menembus batasan portal ular besi yang selaras dengan watak dari daun-daun kering yang dilaluinya

Kali ini kebanggaanku akan aku jumpai
Seraya jiwa menggebu-gebu
Laiknya deburan ombak yang ganas
Dihiasi halilintar yang menyambar jagat raya

Penantian ku telah usai
Mengenang sang pejuang kebenaran
Kobra india itu telah meludahkan bisa mematikan
Pejuang rakyat kecilpun menyatakan sikapnya
Laiknya para intelektual berkekspresi menyampaikan aspirasi
Juga jala-jala nelayan yang menjerat ikan-ikan tak berdosa
Melumpuhkan mangsa ;  tanah bekas ingusku, kursi dan papan tulis alfabetku
Juga menunjukkan siapa sebenarnya dibalik sang penguasa tubuh meliuk-liuk

Aku perkosa hak-ku sendiri

“Petra” pun telah nampak jelas terpampang di ruang hampa udara
Atau masih kurangkah semua ini?
Setahun lagi istana itu akan semakin kokoh

Pertanda apa ini?
Jika memang harus beberapa jam lagi aku berdiri diatas ingusku sendiri
Aku jalani dengan ketabahan dan pasrahku
Tapi mengapa harus bidadari pementorku yang menjadi korban?
Kini dia lemah tak berdaya
Namun semangat juangnya masih menjulang tinggi bagai gedung-gedung pencakar langit yang menggapai cahaya bintang yang berkilauan
Karena aku tidak bisa menentukan tabir kehidupan

Pengorbanan sang “petra” adalah keluargaku
Dan “petra”lah yang akan aku berikan sebagai balas budiku,dan memang sukmaku untuk itu
Bukan rupiah-rupiah yang dilombakan oleh kaum berdasi yang aku berikan
Melainkan sebuah kibaran bendera dibalik “petra”
Aku suguhkan kasih sayang dan cintaku untuk keluargaku
Janganlah engkau pulang !
Aku ini keluargamu , penjemput mimpi yang hilang

Aku akan melangkahkan kakiku untuk menjadi (telah menjadi) keluargamu seutuhnya
Karena aku adalah “petra”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar